Jalanologi – Security Check (damai yang indah)

Rabu 11 Juni 2008 at 5:22:46 Tinggalkan komentar

sherlock

Pernah melalui security check? Pasti pernah, sejak dunia yang modern dan berteknologi maju ini menghasilkan orang-orang yang sangat tertekan sampai-sampai rela membunuh diri demi membunuh orang lain. Kalau dulu para satpam lebih sibuk mengantar surat dan menolak sumbangan RT/RW, kini mereka jadi jagoan, dengan kaca cembung dan ketukan galak, memaksa semua orang membuka pintu mobil untuk `cek bom’. Yah, beginilah gayanya zaman sekarang!

Sebagai orang yang sering bepergian, saya bisa-bisa mengalami 2-3 kali security check dalam seminggu – hanya di bandara saja, tidak terhitung cek untuk masuk gedung di Jakarta. Di bandara, pengecekan berlangsung lebih ketat, dan – menurut saya – di beberapa negara sudah mencapai tahap keterlaluan. Seorang rekan saya pernah cerita bahwa dia melihat seorang ibu-ibu bersanggul dari Jakarta yang `dipaksa’ mencopot seluruh sanggulnya, hanya karena jepit rambut sang ibu terus-menerus membunyikan metal detector para pengecek. Sang ibu yang malang itu sampai menangis tersedu-sedu, masuk ke gate dengan rambut terurai. Bahkan rekan saya yang asli
Jerman pun gusar melihatnya!

Saya sendiri pernah melihat kejadian serupa di Singapura – tetangga kita yang paling demen melakukan security check di bandara, namun seorang tahanan JI bisa kabur dengan leluasa dari penjaranya (mungkin, lebih baik dia dipenjara di Changi airport saja!). Kejadian ini menimpa seorang penumpang asal Cina yang datang dari Australia. Pakaiannya lusuh, kemungkinan dia adalah seorang pekerja kasar yang kerja di negeri kangguru tersebut. Dia membeli sebotol anggur merah dari Melbourne, sebagai hadiah untuk keluarganya di Cina. Namun, security Singapur yang gagah itu dengan sigap menyita wine tersebut, karena tidak menggunakan plastik transparan standar! Sang penumpang sampai berlinang air mata, menjelaskan bahwa dia menabung sangat lama untuk membeli wine tersebut untuk keluarganya. Apa alasannya kok tidak boleh dibawa? Otaknya terlalu sederhana
untuk mengerti kepicikan dunia modern ini. “Sorry sir, cannot sir! Because it is not bought in Singapore!” – tentu saja sang satpam tetap ngotot. Saya melangkah pergi, tidak rela menyaksikan wajah sedih sang penumpang tersebut, yang harus menjelaskan pada istrinya bahwa wine oleh-oleh satu-satunya sudah raib disita.

Belum lagi lelucon terakhir: gara-gara sekelompok orang kreatif di Inggris yang konon berencana meledakkan pesawat dengan bom cairan (sebuah klaim yang tidak jelas – cairan apa yang digunakan? Bagaimana detonasinya?), kini muncul larangan baru mengenai pembatasan cairan. Para satpam Singapur pun makin cerah wajahnya, mendapat `kekuasaan’ baru untuk menyita lebih banyak lagi barang. Peraturannya adalah: dilarang membawa air mineral 500 ml melalui security checkpoint, tapi di beberapa negara boleh membeli air mineral di dalam bandara dan membawanya terbang. Lha apa bedanya? Tauk ah gelap!

Tapi, ada satu security check yang tidak pernah saya lupakan – karena security check waktu itu adalah security yang benar-benar security! Tahun 2003, saya dan beberapa rekan pergi berwisata ke Medan. Karena kebetulan ada seorang kawan yang lahir di Kota Langsa, NAD, maka kami ‚nekad’ naik mobil dari Medan ke Langsa – padahal waktu itu propinsi NAD masih dalam keadaan darurat militer. Ketika sampai di pos perbatasan Kuala Simpang, tidak jauh setelah melintasi jembatan Sei Besitang, mobil kami harus melalui pemeriksaan keamanan. Kali ini sungguhan – pemeriksanya adalah satu satuan Brimob yang bersenjata laras panjang. Kaca mobil dibuka, dan dengan senapan terhunus – tepat di depan muka saya – beliau pun bertanya dengan wajah dingin “Bisa lihat KTP-nya?”. Sambil berusaha sesedikit mungkin bergerak, masing-masing kami mengeluarkan KTP. Jelas
terlihat, sang Brimob sangat siap menembak jika ada gerakan mencurigakan! Tanpa buka bagasi, tanpa buka pintu – hanya dengan moncong senjata laras panjangnya, kami tahu bahwa itulah security check beneran!

Sesudah peristiwa tsunami, keamanan di Aceh berangsur membaik. Ketika teman saya kembali ke sana 2 tahun kemudian, dia dengan bangga menunjukkan sebuah foto dimana terlihat pos keamanan yang memeriksa kami dulu, kini sudah kosong melompong. Saya nyaris menangis terharu melihat foto itu, yang melambangkan betapa kondisi mencekam dan mengancam yang dulu kami rasakan sekarang sudah tiada lagi – diganti dengan rasa aman, tertib, dan saling percaya. Mudah- mudahan, anak-cucu kita nanti bisa menyaksikan lagi suatu zaman
dimana orang bisa bebas bepergian dengan rasa saling percaya, tanpa harus diperiksa dimana-mana. Amin!

(di ambil dari jalansutra.or.id Oleh: Harry Nazarudin)

Iklan

Entry filed under: Tak Berkategori.

mo kirim sms gratis???? Pramuka yang kreatif…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tanggalan Hijriyah

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

ubuntu jaunty jackalope

Ubuntu: For Desktops, Servers, Netbooks and in the cloud

wis ana pira sing ndelok situs kiya ya..

  • 15,121 orang baik

%d blogger menyukai ini: